masa depan bumi kita

Masa depan bumi kita

Global Warming adalah peristiwa naiknya suhu rata-rata bumi dikarenakan efek rumah kaca(green house effect),dan menumpuknya gas-gas rumah kaca di atmosfer. Pembahasan mengenai masalah global warming sendiri sudah ada sejak seabad yang lalu. Tepatnya oleh ilmuwan Swedia,Svante Arrhenius. Dia menyatakan bahwa CO2 adalah gas yang dapat mengontrol suhu atmosfer. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa seiring perkembangan zaman kita harus mengahadapi kenyataan yang tidak menyenangkan ini. Dalam keadaan normal,cahaya matahari yang sampai ke bumi akan di pantulkan lagi ke angkasa melalui atmosfer,tapi kenyataannya gas-gas rumah kaca yang menumpuk di atmosfer;CO2,Metana,CFC,dan sebagainya menghambat proses itu sehingga bukan di teruskan ke angkasa tapi cahaya matahari tersebut kembali ke bumi,menciptakan efek umpan balik,dan sehingga suhu bumi ikut meningkat. Sehingga es di kutub mencair,perubahan iklim,dan iklim mulai kacau. Bahkan di beberapa negara yang memiliki permafrost(lapisan es abadi)akhir-akhir ini juga sudah mulai hilang. Kabar terakhir yang kita dapat adalah runtuhan es di kutub setara dengan 7 kali kota Manhattan di New York.
Di lain pihak,peningkatan penduduk bumi yang meningkat drastis menyebabkan manusia berusaha semaksimal mungkin memenuhi kebutuhan hidupnya. Di awal tahun 1900-an penduduk bumi sekitar 1,5 milyar,tapi di tahun 2000-an jumlahnya meningkat drastis mencapai 4 kali lipat menjadi sekitar 6 milyar dan masih akan terus bertambah. Disaat yang sama bumi harus menyediakan kebutuhan mereka semua. Bahan bakar fosil yang berusia jutaan tahun,habis dalam tempo beberapa dekade saja. Terjadi kelangkaan energi,pangan yang terjadi dalam skala internasional.
Mempercayai Global Warming bukan karena Al Gore,wakil Presiden AS tahun 1992 yang sukses mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2007 dan Penghargaan Oscar karena kontribusinya terhadap lingkungan yang disalurkan melalui film dokumenternya “an inconvenient truth”. Bukan karena kita telah menandatangani Protokol Kyoto tahun 1997,bukan juga karena kita telah menjadi tuan rumah Konferensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim di Bali pada Desember 2007 yang lalu (UNFCCC). Tapi lebih karena kajian permasalahan ini sudah ada seabad yang lalu. Dan juga karena ini adalah ulah kita. Jika kita tidak peduli,bagaimana nasib anak cucu kita. Akhir-akhir ini kita hanya merasakan “sedikit”dari dampaknya,lantas bagaimana dampaknya 50 tahun kedepan?.
Kita,tak terkecuali dan negara pesisir yang lain serta negara-negara berkembang lain,yang “hanya”sedikit berkontribusi pada Global Warming dibandingkan Eropa dan AS,yang akan menerima dampak yang paling parah. Perubahan cuaca dan lautan dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.
Sekarang bukan lagi saatnya mencari cari negara mana yang menyumbang emisi gas terbesar. Karena ini adalah Global Warming,bukan Local Warming. Jadi seluruh dunia adalah penyebabnya dan yang akan menerima dampaknya. Kita sendiri,Indonesia memiliki kontribusi yang besar terhadap permasalahan itu. Dulu kita adalah negara dengan hutan terluas nomor 2 didunia setelah Brasil. Tapi saat ini posisi prestige itu tergeser oleh Kongo karena illegal logging. Lagi-lagi karena ulah kita,manusia.
Saat ini sudah saatnya kita berperang melawan CO2 dan gas-gas rumah kaca yang lain. Karena masa depan bumi ada ditangan kita. Banyak cara bisa ditempuh. Melakukan langkah 3R(Reuse,Reduce,Recycle),memakai barang-barang hemat energi,dan menanam pohon,serta masih banyak cara yang lain lagi. Untuk yang terakhir disebutkan semua orang bisa melakukannya,asalkan ada kemauan. When there’s a will there’s a way. Pohon membutuhkan CO2 untuk memasak makanan. Tapi yang harus kita ketahui,pohon-pohon yang ada saat ini tidak akan tiba-tiba menjadi rakus karena banyak sekali CO2 yang bisa “dimakan”untuk proses fotosintesis yang hasilnya bisa kita nikmati semua,O2. Sudah ditentukan oleh Sang Pencipta berapa kadar CO2 yang bisa diambil oleh sebuah pohon untuk proses tersebut.
Tidak semua ilmuwan setuju tentang keadaan dan akibat dari pemanasan global. Beberapa pengamat masih mempertanyakan apakah temperatur benar-benar meningkat. Yang lainnya mengakui perubahan yang telah terjadi tetapi tetap membantah bahwa masih terlalu dini untuk membuat prediksi tentang keadaan di masa depan. Kritikan seperti ini juga dapat membantah bukti-bukti yang menunjukkan kontribusi manusia terhadap pemanasan global dengan berargumen bahwa siklus alami dapat juga meningkatkan temperatur. Mereka juga menunjukkan fakta-fakta bahwa pemanasan berkelanjutan dapat menguntungkan di beberapa daerah.
Tapi yang patut dicurigai adalah dibalik ilmuwan tersebut ada para pihak industri yang mendanai proyek mereka karena mereka tidak ingin mengurangi emisi gas CO2 nya karena itu akan sangat merugikan .
Melihat berbagai dampak yang ada apa iya kita masih memperdebatkan tentang kebenaran fenomena Global Warming,serta tentang siapa yang bersalah sebagai penghasil emisi gas-gas rumah kaca terbesar. Dari survei sederhana,beberapa kawan yang saya tanya mengenai apakah mereka percaya global warming dan alasan mengapa mereka percaya. Jawaban yang saya terima beragam. Mereka berpendapat bahwa suhu bumi lebih panas dari biasanya. Sebagai anak mudapun,mereka sepakat untuk menguranginya dengan cara mengurangi frekuensi pemakaian kendaraan bermotor,menggunakan barang-barang hemat energi,dan menggunakan energi dengan seefisien mungkin.
Kita semua adalah saudara. Bagian dari 6 Milyar lebih penduduk dunia ini,Bumi tercinta. Kita hanya punya satu bumi.


Deferensi : http://kolumnis.com/mari-berkontemplasi.html

0 komentar:

Posting Komentar