ilmu sosial dasar tentang masyakat

Saat ini masyarakat dinilai kurang pandai untuk merawat dan menjaga kelestarian hutan. Akibatnya, banyak ditemui hutan kritis yang tidak mampu untuk menyerap air, sehingga pada musim kemarau banyak daerah yang dilanda kekeringan. Bukan hanya itu, lahan di sekitar hutan pun tidak bisa dimanfaatkan secara optimal.
Demikian Gubernur Jawa Timur Imam Utomo dalam acara pencanangan sejuta pohon yang bertajuk Gempita (Gerakan Masyarakat Untuk Penghijauan Semesta) di Waduk Pondok yang berjarak sekitar 15 km sebelah timur Kota Ngawi, Selasa (28/01).

Gubernur juga menambahkan, untuk menjaga kelestarian hutan, perlu dilakukan program perawatan hutan. "Saya sangat menyambut gembira program ini. Tetapi saya juga minta kepada masyarakat, khususnya kepada Bupati Ngawi, setelah penanaman ini, maka diprogramkan untuk merawat. Jadi tidak hanya untuk menanam tetapi juga merawat. Programnya adalah tanam - pelihara - tanam - pelihara," tandas Imam.

Pencanangan yang dilakukan pada pukul 09.00 WIB ini, ditandai dengan penanaman sawo kecik oleh Gubernur Jawa Timur yang diikuti oleh masyarakat Ngawi.
Sebagaimana diketahui, bahwa hutan produksi yang berada di wilayah Ngawi seluas 44.000 Ha, yang terbagi dalam tiga KPH yakni Lawu DS (8.000 Ha), Saradan (4000 Ha) dan Caruban (5000 Ha), serta hutan rakyat seluas 3.500 Ha. Di antara hutan tersebut, yang kritis seluas 8.500 Ha.

Sementara itu, Bupati Ngawi Dr Harsono, dalam sambutannya mengatakan bahwa program "Gempita" ini bisa terselenggara atas kerja sama pemerintah dengan LSM, masyarakat, media dan dinas instansi terkait. "Dari gerakan ini telah terkumpul 52.260 bibit jati, 4.225 jati plus, 3.000 mahoni dan 1000 pohon lainnya. Kita juga telah mendapatkan bantuan pupuk sebanyak 12 ton. Air mineral yang terkumpul sebanyak 3.438 kardus dan uang tunai 9.300 ribu," ungkapnya. "Untuk penanaman, saat ini telah terdapat 3.000 relawan yang berasal dari pelajar, masyarakat, orpol, dan ormas seperti organisasi pencak silat," imbuh Bupati yang berprofesi sebagai dokter tersebut.

Setelah melakukan pencanangan penanaman sejuta pohon di Ngawi, Gubernur juga meninjau lumbung desa modern, yang terletak di Desa Pacing, Kecamatan Padas. Lumbung modern tersebut dilengkapi dengan gudang dan pengering serta penstabil kadar air padi. Dalam kesempatan tersebut, gubernur meminta agar lumbung desa yang menghabiskan dana pembangunan sekitar Rp 1 M itu, dirawat dengan baik karena merupakan bantuan dari pemintah pusat dan sangat bermanfaat bagi masyarakat Ngawi. Selain di Ngawi, lumbung desa modern juga terdapat di Malang dan Jember. (pen)


deferensi: http://walhijatim-artikel.blogspot.com/2007/04/masyarakat-kurang-pandai-rawat-hutan.html

0 komentar:

Posting Komentar